Rabu, 22 Februari 2012

RELASI KERAJAAN MALAKA DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN SISTEM PERDAGANGANNYA


BAB II
PEMBAHASAN

RELASI KERAJAAN MALAKA
DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN SISTEM PERDAGANGANNYA


A.        Berdirinya Kerajaan Malaka
Proses berdirinya kerajaan Malaka tidak dapat diketahui secara pasti, karena banyak pendapat yang memberitakan secara tidak jelas dan selalu bertentangan. Namun yang dapat dikemukakan bahwa kota Malaka didirikan oleh seorang raja dari Singapura, yang terpaksa menyingkir dari pertikaian di majapahit. Salah satu pangeran tersebut bernama Parameswara. Belum lama setelah ia merebut singgasana, Parameswara terpaksa harus menyingkir ke Muar karena mendapat serangan dari Siam.
 Menurut berita lain Parameswara berasal dari Palembang yang kemudian menyingkir karena serangan dari Tumapel. Setelah lima tahun berlalu ia harus pindah ke Muar sebab dikalahkan oleh raja Patani. Sejarah melayu mengatakan bahwa sang purba yang berasal keturunan Iskandar Zulkarnaen, turun di bukit Siguntang dan menjadi raja di Palembang. Sedangkan anaknya sang Nila Utama menjadi seorang raja di Bintan. Istana tersebut dipindahkan ke sebuah pulau yang bernama Singapura. Nama Singapura ada karena beberapa orang melihat Singa di pulau itu.
Raja pertama Malaka bernama Sultan Iskandar Syah yang memerintah ± 1396 – 1414. Penentuan raja Malaka ini ditentukan oleh seorang Parameswara. Tarich Tiongkok menyebut nama Pai – li – su – ra sebagai raja Malaka. Raja Malaka yang pertama ini merupakan keturunan dari sang Nila Utama. Ia diserang oleh Majapahit dan melarikan diri ke Muar kemudian pindah ke daerah sungai Bertam lalu sungai Malaka dan mendirikan kota yang dinamai Malaka. Nama kota Malaka berasal dari sebuah pohon yang disebut Malaka. Setelah beberapa lama memerintah raja Iskandar Syah digantikan oleh anaknya yaitu raja ahmad (± 1414 – 1424). Raja pertama dan kedua belum masuk Islam, walaupun mereka memakai nama arab – Persia. Setelah itu Muhammad Syah naik tahta (± 1424 – 1445). Muhammad Syah ini menikah dengan seorang putri dari kerajaan Pasai dam masuk Islam. Namun dalam pemerintahnya raja Muhammad Syah diserang oleh kerajaan Siam dan meminta bantuan kepada orang Tiongkok. Kemudian tahta berpindah lagi pada anaknya yaitu raja Ibrahim hanya menurut kata-kata raja Rokan sehingga menjadi iri hati bagi raja Kasim. Sedangkan raja Rokan dan raja Ibrahim dibunuh.
Raja kasim didalam memerintah mempunyai gelar Mudhafar Syah (± 1450 – 1458). Pada masa hegemoninya Malaka diserang oleh Siam dari darat dan laut, akan tetapi serangan itu dapat ia kalahkan. Mudhafar Syah merupakan raja pertama yang pertama menggunakan gelar Sultan. Ia meluaskan kuasa Malaka dengan pesat. Sultan Mansyur Syah merupakan raja yang ke-enam setelah raja kasim. Ia memerintah antara tahun (1458 – 1477). Ia mengembangkan kekuasaannya di Semenanjung & Andalas Tengah. Daerah Kampar ditaklukkan dan dibuatnya menjadi jajahan. Sedangkan raja Siak dan Parameswara wafat didalam pertempuran. Putra mahkota ditawan & dibawa ke Malaka kemudian dikawinkan dengan putri sultan sendiri. Anak dari raja Siak masuk Islam dan diangkat menjadi raja Siak dengan gelar sultan Ibrahim. Raja Indragiri sangat mengakui kekuasaan Malaka, namun ia tidak masuk Islam. Raja Rokan pun tunduk atas Malaka.
Perdagangan Malaka menjadi naik ke puncaknya di bawah sultan Alau’ddin Syah (1477 – 1488). Ia dapat mengelakkan serangan dari kerajaan Batak Aru (Haru). Akan tetapi, ketika ia mau berangkat ke Mekkah, Ia diracuni oleh raja Kampar dan Indragiri, dan ditawan ke Malaka. Kemudian tahta kerajaan digantikan oleh Sultan Mahmud Syah. Pada masa kerajaan Sultan Mahmud, Malaka berada di bawah kekuasaan Portugis.



B.        Usaha Malaka Dalam Menjalankan Hubungan Dagang
Sebagai daerah penghasil, Malaka sebenarnya tidak begitu berarti, namun karena letak geografisnya sangat menguntungkan, maka Malaka menjadi pusat perdagangan pada masa itu. Pada awal abad XVI hubungan antara Malaka dan Cirebon terjalin dengan erat. Ini terbukti dengan adanya Syahbandar dan koloni Cirebon di Upih Malaka, ialah Pate Kadir. Dia sangat terkemuka dan mempunyai hubungan baik dengan Raja.
     Malaka yang merupakan pusat entripot, ingin menjalin hubungan dagang yang baik dengan pelabuhan-pelabuhan di Jawa seperti di Demak, Jepara dan Tuban. Bertambahnya jumlah penduduk Malaka sangat tergantung dengan Jawa untuk mendapatkan beras. Selain Jawa, Malaka juga harus mendapatkan beras dan lada dari Pasai. Hubungan Malaka dan Cina berupa hubungan diplomatik. Malaka mengirim utusan pada tahun 1405 – 1407 dan raja-raja itu sendiri pergi menghadap Maharaja Ming beberapa kali antara tahun 1411 dan 1433.  Kemajuan yang begitu cepat di Malaka, tidak dapat dicapai tanpa adanya peraturan yang berlaku. Maka dari itu, diterapkanlah peraturan yang berlaku antara lain: aturan bea cukai, aturan tentang kesatuan ukuran, sistem pemakaian uang logam, dan sebagainya. Disamping aturan-aturan tersebut juga terselenggarakannya sistem pemerintahan yang sangat baik dan teratur.  
Bahan rempah-rempah juga terkumpul di Malaka seperti buah Pala yang kebanyakan datang dari Banda dan Bunga Cengkeh datang dari pulau-pulau di Maluku. Sedangkan dari Cina barang berupa tanah liat mutiara, perak, sutera, kain satin, damask, dan beroked. Sebagai tukarannya, kapal-kapal Cina mengambil banyak kapur baruss, sebagai obat yang didatangkan dari Borneo. Dari Kambay telang didatangkan kain Kambang yang sangat terkenal di Asia. Kambay merupakan pelabuhan yang menghubungkan Malaka dengan Timur tengah dan Eropa. Kambay dan Malaka adalah pelabuhan yang saling bergantungan. “Malaka tidak dapat hidup tanpa Kambay, juga Kambay tanpa Malaka”.
Sebagian dari orang-orang Gujarat dan Saudagar telah mendiami wilayah Malaka. Dari India telah diekspor kain, juga dari pantai Koromandel dan Bengal, dimana perusahaan tenun telah teratur dan berjalan dengan baik serta pengeluarannya telah dikirim untuk keperluan Asia Tenggara. Kapas-kapas Bengal sangat diminati oleh para saudagar. Malaka sendiri untuk memeberi pertukaran jenis kain di India, telah mengimport lada dari Sumatera Dan Jawa Barat, bunga cengkeh dan buah pala dari Maluku dan Banda, emas dari Sumatera, kapur barus dari Sumatera dan Borneo, Kayu Gaharu dari pulau Timor. Untuk keperluan bahan makanan, Malaka telah mensuplai beras, daging, ikan dan sayuran dari pelabuhan Jawa Utara, Sumatera, Siam dan Pegu (Burma Utara). Semua jenis buah-buahan di datangkan dari Jawa dan Sumatera, termasuk durian yang menjadi makanan yang sangat lezat. Malaka juga mendapatkan bijih dari kawasan tambang di Semenanjung Tanah Melayu arah ke utara di Kedah, dan emas dari Pahang.
Jadi tidak mengherankan jika Malaka dikatakan sebagai ibu pejabat perdagangan di Asia Tenggara. Seperti yang ditulis oleh Tome Pires: “ Ia adalah sebuah bandar yang telah dibina untuk barang dagangan, lebih baik dari sekarang bandar di dunia”. Ia adalah pelabuhan laut yang paling kaya, dengan angka saudagar pemborong yang paling besar dan perkapalan serta perdagangan yang melimpah-limpah yang tidak dapat dilihat di seluruh dunia (ditulis oleh Borbosa). Sedang Varthema: saya percaya bahwa kapal-kapal yang sampai adalah lebih banyak diseberang tempat di dunia. Namun hanya Pires yang menunjukkan arti lebih luas dari semua itu: “ Siapa yang menjadi tuan di Malaka tangannya adalah terletak di leher Venice”.

C.        Sistem Politik, Agama, Ekonomi
1.         Sistem politik
Daerah yang ada di bawah kekuasaannya antara lain terletak di Sumatera yaitu daerah Kampar. Dari situlah Malaka menjalankan pengawasannya sampai ke Minangkabau. Kemungkinan-kemungkinan tersebut mengisyaratkan Malaka untuk mengadakan ekspansinya ke Utara dan ke Selatan Sumatera. Hubungan Malaka dan Pasai tidak terganggu meskipun Malaka berhasil menarik orang-orang Jawa datang ke Malaka tanpa merusak jalinan pedagang Pasai dan Jawa. Hubungan Pasai dan Malaka diikat oleh beras dan lada. Politik Cina mengirimkan bantuan armada siap tempur yang dipimpin oleh Cheng Ho pada tahun 1405 dan utusan yang dikirim oleh Kaisar Ming ke-III, yaitu Chengtsu (Yung-Lo). Kekuatan politik Malaka sangat kuat sehingga mampu menandingi Siam.

2.         Sistem Agama
Berkembangnya Malaka, banyak alim ulama yang datang dan menyebarkan agama Islam di kota ini. Meskipun penguasa belum memeluk agama Islam, namun pada ke-15 mereka telah mengizinkan agama Islam berkembang di Malaka. Bahkan penganut-penganut Islam diberi hak istimewa serta dibangun sebuah Mesjid. Pedagang yang singgah di Malaka yang berasal dari Jawa dan pulau-pulau lain di Indonesia, banyak menjadi penyebar agama baru.

3.         Sistem Ekonomi
Sistem upeti yang dibayar oleh Siak ke Malaka berupa emas. Selain perluasan kekuasaan ke daerah di Sumatera, Malaka dapat menaklukan kepulauan Riau-Lingga. Sebagai upeti diberikan daerah adalah bahan untuk di ekspor. Tenaga kerja pun diambil dari sini. Penduduk daerah ini terkenal sebagai orang-orang yang suka berperang. Di samping itu, Malaka juga tergantung dengan Siam dalam persediaan beras.

D.        Perlawanan rakyat Malaka terhadap Portugis
Pada tahun 1511 Malaka berada di bawah kekuasaan Portugis, maka derah-daerah seperti Sumatera mulai melepaskan diri dari Malaka. Sejak tahun 1511 banyak hasil perdagangan yang sedianya menuju Malaka pergi ke pantai barat. Hubungan perdagangan antara Demak dan Malaka juga mulai terganggu akibat kedaangan orang Portugis. Kedatangan orang Portugis pada abad ke-16 dipimpin oleh Alburquerque. Ketika Sultan Mahmud kalah dalam perang untuk Malaka, ia kemudian mengungsi ke Pahang untuk kemudian tinggal di Muan dan di pulau Bintang. Meskipun telah mengungsi ia tetap melakukan serangan pada portugis. Untuk menghadapi Sultan Mahmud, maka Alburquerque berusaha membuat persahabatan dengan raja Kampar dan Pasai.
Pada akhir tahun 1512 seorang pemuka yaitu Pate Kadir, bersekongkol dengan laksmana Sultan Mahmud, Hang Nadin, untuk menyerang Malaka yang berada di kekuasaan Portugis. Usaha itu dapat ditahan, akan tetapi serangan yang lebih hebat dari Pate Unus, penguasa Jepara. Yang datang dengan balatentara sebesar sepuluh sampai duabelas ribu orang. Pada tahun 1512/1513 serangan dilakukan namun gagal. Pada bulan Oktober 1512, Alburquerque melakukan serangan terhadap Bintang namun banyak berjatuhan korban. Sedangkan Laksmana Sultan Mahmud, berhasil merebut satu kapal Portugis.
Serangan Portugis dilakuakn lagi pada tahun 1523 di bawah Henriquez, dan pada tahun 1524 dipimpin oleh De Souza, keduanya gagal. Akan tetapi, adanya persekutuan antara Lingga dan Portugis, Bintang berhasil direbut kembali pada tahun 1525 Sultan Mahmud mengungsi ke Johor. Aceh juga telah banyak melakukan penyerangan terhadap Malaka namun gagal tetapi bersedia berdamai dengan Potrugis. Pada tahun 1587 Portugis mendekati Aceh untuk bersekutu dan bersama menghancurkan Johor.


BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Setelah membahas makalah yang berjudul Relasi Kerajaan Malaka dalam Mengimplementasikan Sistem Perdagangannya dapat disimpulkan bahwa Malaka merupakan salah satu pusat perdagangan yang terkenal pada abad ke-15. Posisinya yang strategis membuat para pedagang dari berbagai daerah maupun negara datang menghampiri pelabuhan tersebut. Oleh sebab itulah maka Malaka menjadi pusat pelabuhan yang ramai dan sangat mudah mendapat pengaruh dari pihak luar terutama para pedagang asing.
Selain itu, sistem arah mata angin yang yang berlaku memungkinkan para pedagang untuk bertemu di Malaka. Banyaknya para pedagang yang berkunjung ke Malaka menyebabkan daerah ini menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam pada abad ke-16. Daerah yang ada di bawah kekuasaannya antara lain terletak di Sumatera yaitu daerah Kampar. Dari situlah Malaka menjalankan pengawasannya sampai ke Minangkabau. Kemungkinan-kemungkinan tersebut mengisyaratkan Malaka untuk mengadakan ekspansinya ke Utara dan ke Selatan Sumatera.
Politik Cina mengirimkan bantuan armada siap tempur yang dipimpin oleh Cheng Ho pada tahun 1405 dan utusan yang dikirim oleh Kaisar Ming ke-III, yaitu Chengtsu (Yung-Lo). Kekuatan politik Malaka sangat kuat sehingga mampu menandingi Siam. Berkembangnya Malaka, banyak alim ulama yang datang dan menyebarkan agama Islam di kota ini. Meskipun penguasa belum memeluk agama Islam, namun pada ke-15 mereka telah mengizinkan agama Islam berkembang di Malaka. Sistem upeti yang dibayar oleh Siak ke Malaka berupa emas. Selain perluasan kekuasaan ke daerah di Sumatera, Malaka dapat menaklukan kepulauan Riau-Lingga. Sebagai upeti diberikan daerah adalah bahan untuk di ekspor. Tenaga kerja pun diambil dari sini. Penduduk daerah ini terkenal sebagai orang-orang yang suka berperang. Di samping itu, Malaka juga tergantung dengan Siam dalam persediaan beras.
B.                Saran
Setelah memahami isi makalah ini maka penulis berharap semoga pembaca bisa mengetahui bagaimana hubungan dagang Malaka dengan beberapa daerah seperti Jawa, Aceh, Pasai, mengetahui situasi politik, ekonomi, sosial dan agama pada masa itu serta seberapa jauh pengaruhnya terhadap kerajaan Malaka, dan yang terakhir penulis berharap pemaca bisa menjelaskan cara-cara rakyat Malaka menghadapi tindakan yang dilakukan Portugis.
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Yustiana Kameng, S.Pd selaku dosen mata kuliah Sejarah Asia Tenggara Kuno, karena berkat beliaulah sehingga makalah ini bisa selesai. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.


DAFTAR PUSTAKA


Brian Harrison, 1966, Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Hall, D.G.E., 1988, Sejarah Asia Tenggara. Surabaya : Usaha Nasional.
Brian Harrison, 1966, Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Hall, D.G.E., 1988, Sejarah Asia Tenggara. Surabaya : Usaha Nasional.
Marwati Djoenoed Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, 1981/1982, Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta : Departemen Pendidikan & Kebudayaan.
Sanusi Pane, 1955, Sejarah Indonesia I. Jakarta : Perpustakaan Perguruan Kem. P.P. dan K.
Sartono Kartodirdjo, 199, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium Jilid I. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Di unduh tanggal 23 April 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar