Rabu, 15 Februari 2012

KERAJAAN CHENLA DAN ANGKOR

BAB I
PENDAHULUAN


A.   Latar belakang
Di era globalisasi ini , sejarah  makin banyak dilupakan orang, baik sejarah lokal maupun sejarah bangsa luar.  Bila kita renungkan dan resapi , sejarah sangat berguna kehidupn kita,karena sejarah bukan saja belajar tentang masa lalu, tetapi juga belajar tentang dinamika manusia. Semakin kita banyak belajar sejarah, kita akan semakin mengerti dan wawasan kita akan bertambah.

Wawasan itu tentu sangat berguna bagi kita, dan dapat kita terapakan dalam kehidupan kita, tentu dengan memilah mana yang baik dan buruk. Masa lalu adalah pelajarai untuk tumbuh dan berkembang kearah yang lebih baik. Perkembangan itu tentu melewati berbagai proses yang panjang.

Oleh karena itu, dengan adanya makalah diharapkan dapat membantu kita untuk mengetahui sejarah AsiaTenggara Kuno, khususnya kerajaan Chenla dan Angkor yang ada di Kamboja.


  
B.   Rumusan masalah

A.    Kerajaan Chenla

1.      Kapan Awal berdirinya kerajaan Chenla ? 
2.      Runtuhnya kerajaan Chenla ?

B.     Kerajaan Angkor
1.      Kapan Awal berdirinya kerajaan Angkor ?
2.      Siapa Raja masa awal ?
3.      Perkembangan kerajaan Angkor ?
4.      Puncak kejayaan kerajaan Angkor ?
5.      Kemunduran kerajaan Angkor ? 

C.  Tujuan

Dengan dibuatnya makalah ini, diharapakan kita semakin mengerti dan memahami sejarah  Asia Tenggara Kuno, yang dapat menunjang kita sebagai mahasiswa Prodi Pendidikan sejarah.

BAB II
PEMBAHASAN
KERAJAAN CHENLA

1.   Awal berdirinya kerajaan Chenla
         Chenla (Khmer), yang dikenal sebagai Zhenla di Cina dan Lap Chan di Vietnam (yang merupakan Tiongkok-Vietnam pelafalan), adalah awal kerajaan Khmer. Chenla (Khmer), yang dikenal Sebagai Zhenla di Cina dan Lap Chan di Vietnam (yang Merupakan Tiongkok-Vietnam pengucapan,adalah awal kerajaan khmer.
        Awalnya negara pengikut Funan, selama 60 tahun itu mencapai kemerdekaannya dan akhirnya menaklukkan semua Funan, menyerap orang-orangnya dan budaya.. Melemahnya dari negara Funan saat ini sebagian besar dapat dijelaskan dengan peristiwa-peristiwa jauh: runtuhnya Kekaisaran Romawi dan kemudian rute perdagangan antara Laut Tengah dan Cina. Melemahnya dari negara Funan Sebagian besar saat ini dapat dijelaskan dengan peristiwa-peristiwa jauh: Runtuhnya Kekaisaran Romawi dan Kemudian rute perdagangan antara Laut Tengah dan Cina.

2.      Runtuhnya kerajaan Chenla
         Pada 613, Isanapura menjadi ibukota pertama kerajaan baru. Chenla kemudian dibagi menjadi utara dan selatan negara, yang dikenal sebagai "Chenla dari Tanah" dan "Chenla Laut," masing-masing. Provinsi yang Champassak hari Laos modern pusat adalah bagian utara, sementara wilayah Mekong Delta dan milik pantai bagian selatan. Beberapa negara yang lebih kecil memisahkan diri dari Utara dan Selatan Chenla di 715, lebih lanjut melemahkan daerah.
Khmer, yang diyakini pengikut Funan telah mencapai Sungai Mekong dari Sungai Chao Phraya utara melalui Lembah Sungai Mun. Chenla, negara merdeka pertama mereka berkembang dari Funan, menyerap pengaruh Funanese. Catatan Cina kuno menyebutkan dua raja, Shrutavarman dan Shreshthavarman yang memerintah di ibu kota Shreshthapura modern terletak di selatan Laos. Pengaruh yang sangat besar identitas Kamboja yang datang adalah tempa oleh Kerajaan Khmer Bhavapura, di hari modern kota Kamboja Kompong Thom. Pengaruh. Warisannya adalah sultan yang paling penting, Ishanavarman yang sepenuhnya menaklukkan kerajaan Funan selama 612-628. Dia memilih ibukota barunya di Sambor Prei KUK, penamaan itu Ishanapura.
Setelah kematian Jayavarman saya di 681, kekacauan datang pada kerajaan dan di awal abad ke-8, kerajaan pecah menjadi beberapa kerajaan. Pushkaraksha, penguasa Shambhupura mengumumkan dirinya sebagai raja dari seluruh Kambuja. Kronik Cina Menyatakan Bahwa pada abad ke-8, Chenla terpecah menjadi Chenla tanah dan udara Chenla. Selama waktu ini, anak Shambhuvarman menguasai sebagian besar Pushkaraksha air Chenla hingga abad ke-8 yang didominasi Melayu dan Jawa selama bertahun-kerajaan Khmer.

KERAJAAN ANGKOR
1.Awal berdirinya kerajaan Angkor

Karena tidak ada peninggalan tertulis, maka diperkirakan Angkor lahir dari dalam lingkungan Khmer sendiri, bukan karena Tchen-la diduduki secara militer. Dari sudutsejarah, faktor berdirinya Angkor diketahui berasal dari luar yaitu pengaruh dari Nusantara.

o   Sriwijaya dan Dinasti Sailendra
Dengan Sriwijaya memiliki hegemoni perdagangan seperti Fu-nan dan dapat menggantikannya dan berkat hal itu, dapat menguasai laut-laut selatan, mungkin karena hal tersebut Tchen-la terpaksa meninggalkan kekuasaan atas laut. Mulai perempat kedua abad-8 Masehi kekuasaan beralih ke Jawa Tengah dimana berkembang dinasti Syailendra yang kuat.
Raja-raja Sailendra menganggap dirinya keturunan langsung raja-raja Fu-nan, yang berlindung di Jawa setelah negeri mereka ditaklukkan oleh Tchen-la. Mereka mendapat julukan “Raja Gunung” dan menggunakan gelar Maharaja, karena menganggap diri sebagai penakluk dunia. Mereka menjatuhkan salah seorang raja terakhir dari kerajaan Tchen-la yang tengah memudar. Di negari itu mereka memiliki semacam kekuasaan, karena diakui oleh orang Khmer sendiri pada waktu pendirian Angkor.

o   Ekspansi Peradaban Jawa
Cemerlangnya kesenian Buddha zaman sailendra, hal itu mencerminkan perkembangan agama Budha Mahayana yang dimulai pada zaman dinasti Pala di India, dan disebarkan oleh orang Jawa dan Sumatera. Kesenian itu muncul di Semenanjung Malaya dalam bentuk arca gaya Sriwijaya. Menjelang pertengahan abad ke-8 M, ada dua torso Awalokiteswara yang luar biasa bagusnya yang ditemukan di Chaiya. Karya-karya ini, walaupun menunjukkan pengaruh kesenian Jawa, memperlihatkan juga pengaruh kesenian pala yang jelas sekali. Kemungkinan besar patung-patung ini dikenal oleh seniman-seniman Angkor yang pertama. Ritus kerajaan sailendra dan unsur-unsur Hindu tradisional yang tersembunyi di Jawa Timur, gelar “Raja Gunung”, pemujaan raja-raja yang telah meninggal dan pemujaan kepada lingga sebagai symbol kekuasaan, semua itu merupakan salah satu asal-usul dari institusi-institusi kerajaan Angkor.

2. Raja masa awal kerajaan Angkor

1.      JAYAVARMAN II
Pengaruh secara langsung dialami oleh Jayavarman II yang pernah hidup di jawa. Raja itu mempunyai hubungan keluarga agak jauh dengan dinasti-dinasti Kamboja yang terdahulu. Ia tinggal di istana dinasti Sailendra, ia pulang ke kamboja menjelang tahun 790 M.
Raja baru itu mulai mempersatukan wilayah Tchen-la yang terpecah-pecah. Tahapan penaklukannya mengambil wujud sebanyak ibu kota yang didirikannya: mula-mula Indrapura, disebelah timur Kompong Cham lalu menuju propinsi-propinsi sebelah utara danau-dana, yang kelak akan menjadi pusat kekuasaannya. Pada tahun 802 M, ia membangun Mahendraparvata, di Phnom Ku-len, sekitar 30 km sebelah timir laut Angkor.
Tempat itu dipilih dengan pertimbangan khusus. Pada dasarnya wilayah itu tidak layak huni, dan dengan cepat akan ditinggalkan, hal ini bersifat simbolis agar Ia menjadi “Raja Gunung” dan penguasa universal, Jayawarman II telah memilih begitu saja sebuah gunung yang mirip Gunung Meru, tempat bersemayam para dewa disekitar Indra, raja mereka. Secara khusus ia mendatangkan seorang pendeta brahmana untuk membacakan teks-teks suci dan membangun lingga dewa maha mulia. Lingga tersebut, merupakan sumber kekuasaan dan tempat tinggal jiwa sang raja, kelak menjadi lambang kerajaan Khmer. Dengan tindakannya tersebut menjadikan kambuja tidak lagi bergantung pada Jawa dan tinggal hanya seorang penguasa yang universal. Setelah itu Jayavarman II tetap di Roluos dan meninggal di situ pada tahun 850 M. putranya Jayavarman III menggantikannya dan menetap disitu sampai tahun 877 M.
Ternyata bahwa Jayavarman II benar-benar pendiri kekuasaan Angkor, dan bukan hanya dari segi politik saja, tetapi juga dari segi Keagamaan. Pemerintahan Jayavarman II yang diperkuat oleh pemerintahan anaknya, telah mengubah sama sekali jalannya evolusi Kerajaan Khmer. Negeri itu menyatu lagi di bawah kekuasaan tunggal, yang kokoh, dan tak tertandingi.

2.      INDRAVARMAN
Pengganti kedua pendiri Angkor Indravarman (877-889 M) berjasa membina dasar yang kokoh untuk kekuasaan Ankor, baik dalam bidang politik maupun sosial dan ekonomi. Otoritasnya diakui sampai ke Cochin-Cina, sampai ke U-Bon di Siam, bahkan mungkin ke Champa. Selaku penganut ajaran Siwa yang kuat, ia berusaha mengembangkan pemujaan kepada raja yang telah meninggal, yang dimulai oleh Jayawarman II, yang mungkin atas pengaruh Jawa.

3.      YASOVARMAN
Yasovarman, putra Indravarman menggantikannya pada tahun 889M. Dari ibunya, ia adalah keturunan keluarga kerajaan Fu-nan yang palin tua. Gurunya seorang Brahmana, anggota keluarga pendeta yang ditugasi Jayavarman II untuk mengurus pemujaan lingga kerajaan. Sebagai putra Indravarman, dan pewaris raja-raja universal Fu-nan,serta pengikut gagasan-gagasan Jayavarman II, dalam dirinya terkumpul semua kelebihan-kelebihan yang telah membawa kepada kelahiran Angkor.

3. Perkembangan kerajaan Angkor
1.      KOH KER
Harshavarman I, saudara kandung Yasovarman, menggantikannya pada tahun 900 M dan memerintah sampai sekitar tahun 921 M. Sejak tahun 921 M, pamannya Jayavarman IV, memberontak dan membangun sebuah ibukota baru di Chok Gargyar sekarang Koh Ker sekitar 70 km disebelah timur laut Angkor.
Seperti para pendahulunya, Jayavarman IV adalah seorang pengagum Siwa. Di ibu kotanya yang baru ia membangun sebuah lingga suci, suatu pengulangan tindakan Jayavarman II yang membangun Angkor, mungkin dengan tujuan sama yakni merayakan keberhasilannya merebut kekeuasaan. Ia wafat pada tahun 941 M dan putranya tetap memerintah di Koh Ker samapi tahu 941 M.

2.      KEMBALI KE ANGKOR
Rajendravarman (944-968 M), kemenakan si perampas kuasa dan juga Yasovarman, kembali ke kota itu begitu ia naik tahta. Kepulangan itu lebih bermakna lagi karena raja baru itu, menurut garis keturunan ibu, adalah pangeran penguasa di pusat bekas Tchen-la itu. Dengan pilihannya itu menandai putusnya hubungan dengan tanah asal orang kambuja dan pemindahan secara permanen ke dataran rendah orang-orang khmer beserta penguasa atas seluruh wilayah selatan Indocina. Untuk menebus kepergiannya, menurut tradisi dari zaman Indravarman, ketika baru saja tiba kembali di Angkor, rajendravarman mempersembahkan Candi Mebon (tahun 974-952 M) kepada nenek moyang keluarga kerajaan.
Dalam bidang politik, rajendravarman memperluas kekeuasaannya samapi ke Champa dan pada tahun 945-956 M, pasukannya mengobrak-abrik Po Nagar di Nha-trang. Putranya Jayavarman V menggantikannya pada tahun 968 M dan memerintah sampai 1001 M. Ia melanjutkan politik ayahnya terutama memperkokoh kekuasaan Khmer atas wilayah Champa.

3.      DINASTI SURYA (kebesaran surya)
Tahun-tahun pertamaabad ke-11 M, sebuah dinasti baru merebut kekuasaan. Suryavarman I, keturunan “Bangsa Surya” dari kambuja, tampaknya perampas kekuasaanyang menaklukkan Angkor dengan kekuatan senjata. Setelah mengalahkan kedua pengganti Jayavarman V yang masa pemerintahannya tidak lama, ia menetap di ibu kota menjelang tahun 1011 M.
Suryavarman I memiliki sifat-sifat Khmer yang sama seperti para pendahulunya. Satu-satunya perubahan yang berarti dalam masa pemerintahannya ialah pembukaan pintu selebar-lebarnya bagi agama Buddha. Secara pribadi raja beragama Siwa dan melanjutkan kultus raja yang sudah diterapkan raja-raja pendahulunya. Suryavarman I memerintah sampai tahun 1050 M. Untuk kerajaan Khmer ia telah mencaplok seluruh wilayah selatan Siam, dari Lopburu samapi Ligor, dan mungkin sebagian besar Laos selatan, mungkin meluas sampai ke Luang Prabang.
Putranya, Udayadityavarman II, menggantikanya dan hidup sampai tahun 1066 M. Walaupun masa pemerintahannya sangat pendek, dan selalu dirusuhkan oleh pemberontak-pemberontak di semua propinsi kerajaannya yang luas, ia masih memperluas kekuasaannya dan mungkin sempat mengalami puncak kekuasaan tertinggi yang pernah di capai oleh seorang raja Khmer.
Udayadityavarman II adlah penganut agama Siwayang melaksanakan ibadah secaraa ketat, walaupun ia condong memuja wisnu. Bahkan pada masa pemerintahannya ditandai sejenis reaksi anti agama Buddha, namun tidak menghapuskan kepercayaan yang terus-menerus berkembeng di Kamboja sejak abad ke-11 M.
Adik bungsunya menggantikannya pada tahun 1066 M dan memerintah di bawah nama Harshavarman II, samapai menjelang tahun 1080 M. Ia terpaksa menghadapi serangan orang-orang Chamyang telah memerdekan diri dan bahkan berhasil membakar ibi kota kuno Sambor Prei Kuk, setelah mengumpulkan harta rampasan yang menguntungkan. Di bawah pemerintahannya, kekuasaan dinasti Surya menurun dengan cepat. Setelah memeribntah selama kurang dari satu abad, dinasti tersebut harus menyerah ke dinasti yang baru.

4. Puncak kejayaan kerajaan Angkor

Penghancuran Angkor oleh orang Cham merupakan pukulan fatal pada tradisi Hindu, yang sampai waktu itu telah menyemarakan peradaban Khmer. Peristiwa itu sebenarnya mungkin dapat pula menandai akhir Kamboja itu sendiri. Bersamaan dengan itu peradaban yang dikembangkan dan mencapai kristalisasi di Angkor menemui jalan buntu. Ia tidak mampu lagi memperbarui diri yang dikembangkan sebanyak-banyaknya hanyalah tema-tema itu saja.
Hal ini diperparah lagi dengan majunya agama Buddha sepanjang abad ke-12 M, berdasarka jumlah patung Sang Bijaksana yang bertambah banyak. Fakta yang lebih bermakna lagi: seorang raja Angkor, Dharanindravarman II, secara resmi memeluk agama Buddha. Setelah itu kemenangan orang Cham dianggap sebagai bencana supra-natural, isyarat dari langit: akhir suatu tatanan yang begitu digembor-gemborkan, karena seolah-olah diciptakan oleh para dewa sendiri dan tak tergoyahkan.

1. JAYAVARMAN VII
Ini adalah tokoh yang menangguhkan pukulan nasib fatal dengan menempatkan negerinya di bawah bendera agama Buddha. Ia seorang tokoh yang memepesonakan, dan yang paling menonjol dalam sejarah Khmer. Jayavarman VII ini adalah raja yang paling sombong dan haus kemenangan diantara semua raja Khmer yang ditonjolkannya adalah tindakan-tindakannya.
Ia dalam naik tahta tidak langsung mengantikan ayahnya, hal ini ketika ayahnya wafat, ia sedang berperangdi Champa dan tidak sempat menuntut haknya.dia tidak berbuat apapun ketika Yasovarman II naik takhta bahkan ketika Angkor direbut oleh Tribhuvanadityavarman. Ia telah melewatkan semua periode tersebut dengan menyendiri di Preah Khan, Kompong Svay.
Sesudah menderita penyakit kusta, lalu sembuh berkat keajaiban. Ia lalu kembali ke panggung politik dan keagamaan. Ketika penyerbuan orang Cham lah yang mendorongnya bertindak. Setelah serentetan peperangan dahsyat, di antaranya pertempuran di danau-danau, ia mengusir kaum perusak Angkor itu dan pada tahun 1811 M ia naik takhta. Dalam usia lebih dari enam puluh tahun dan ibu kota hangus, ia membalas dendam dengan cara yang mengerikan. Ia menyerbu Champa, mencaplok Vijaya. Sebelumnya ia mendapat jaminan Annam akan netral. Tetapi begitu ia berhasil, pasukannyaditamabh dengan pasukan-pasukan dari Champa, Siam, Birma, menyerbu Annam. Di utara barat ia lebih memajukan lagi batas kerajaannya samapai ke Vientiane, sampai Birma, di selatan sampai Semenanjung Melayu.
Namun dibalik kesuksessannya dalam aspek beragamanya, kegiatan yang menggebu nyaris lupa daratan, padahal ia seorang penganut Buddha Mahayana. Di bawah panji agama Buddha yang agak konvesional Jayavarman sama sekali tidak meninggalkan kultus raja, dewa diatas bumi. Tampaknya ia sama sekali tidak mengubah ritus Hindhu yang mendasari kerajaan Angkor.

4.Kemunduran dan akhir kerajaan Angkor

Setelah Jayavarman VII, di Angkor tidak ada lagi raja yang patut dicatat. Ibu kota masih ada dan penampilannya tidak berubah. Teks-teks Cina, Tcheu Takuan, pengembara terkenal yang mengunjungi Kamboja pada tahun 1295 M masih menggambarkan sebagai kota terkaya, rajanya yang paling berkuasa di laut-laut selatan. Sampai tahun 1430, raja-raja Khmer tetap memerintah di Angkor.
Penyebab lainnya dalam bidang ekonomi kerajaan ini berada dalam keadaan bahaya. System hidrolis yang dimiliki Angkor perlu pemeliharaan dan perkembangan agar tidak dipenuhi lumpur dan macet. Dengan melemahnya kekuasaan raja maka semakin menuju kebangkrutan ekonomi karena hanya raja yang mampu mengelolo jaringan raksasa ini. Tak ayal lagi pertanian di Angkor semakinmenurun dan berakibat pada menurunnya jumlah penduduk. Selain itu wabah penyakit malaria ikut memperparah kejatuhan Angkor.
Kehilangan Angkor dipercepat oleh serbuan Thai yang bertubui-tubi dan merusak. Setelah kota-kota di Angkor dapat direbut oleh musuh-musuh mereka lalu di rampas kekayaannya dan dibakar. Maka orang Kamboja meninggalkan Angkor.

BAB III
PENUTUP

A.            Kesimpulan
Dengan pembahasan makalah ini, kita dapat mengetahui sejarah kerajaan Chenla dan Angkor,walaupun masih banyak kekurangan  materi dalam makalah ini.


B.            Saran
Kita sebagai mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah harus lebih mengetahui dan mendalami materi , dan kami masih banyak memerlukan bimbingan.

DAFTAR PUSTAKA


o   Wiharyanto,  A. Kardiyat, 2008. Sejarah Asia Tenggara Kuno,Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma.
o   D.G.E., Hall,1988. Sejarah Asia Tenggara, Surabaya, Usaha Nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar